Jumat, 13 September 2019

PSIKOLOGI BELAJAR: MODUL III: BELAJAR DAN PERANAN PSIKOLOGI BELAJAR


Modul  III
BELAJAR DAN PERANAN PSIKOLOGI BELAJAR

I.    Petunjuk Umum   
Ketentuan umum memuat penjelasan tentang langkah-langkah yang akan ditempuh dalam perkuliah, sebagai berikut :
1.    Kompetensi Dasar
Setelah perkuliahan berakhir, mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan peranan dan fokus psikologi belajar.

2.    Materi
B.  Macam-macam aktivitas yang disebut belajar
C.  Fokus perhatian psikologi belajar; (a) Anak didik; (b) Proses Belajar; (c) Situasi Belajar.

3.     Indikator Pencapaian
Mahasiswa dapat  merumuskan pengertian, arti penting belajar, macam-macam aktivitas dan ciri-ciri belajar, peranan dan fokus perhatian psikologi belajar.

4.     Strategi Pembelajaran  
Strategi pembelajaran yang digunakan adalah  interactive lecturing, ceramah, Small Group Discusion, dilanjutkan dengan stand rolling cognitive. Waktu 100 menit.

5.      Evaluasi  
Setelah kegiatan perkuliahan berakhir; (a) mahasiswa diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang terkait dengan materi kuliah yang telah diajarkan, sehingga dapat diketahui seberapa jauh tujuan pembelajaran dalam pembahasan materi tersebut dapat tercapai. (b) mahasiswa ditugasi untuk membuat resume materi perkuliahan dan dikumpulkan sebagai kegiatan aktivitas kelas.







II. Materi Kuliah

Modul III
BELAJAR DAN PERANAN PSIKOLOGI BELAJAR:


A.     Pengertian  dan Arti Penting Belajar

1.  Pengertian Belajar
Belajar merupakan kata yang tidak asing dan sudah akrab dengan semua orang. Bagi pelajar dan mahasiswa kata belajar merupakan kata yang tidak asing lagi bagi mereka. Bahkan sudah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari semua kegiatan dalam mengikuti pendidikan. Akan tetapi dari semua itu, kenyataannya tidak semua orang mengetahui apa batasan dan esensi belajar itu sendiri.
Banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu pengetahuan.  Ada yang lebih khusus mengartikan belajar adalah menyerap ilmu pengetahuan. Jika konsep ini digunakan, maka orang yang belajar mesti mengumpulkan fakta-fakta sebanyak-banyaknya dengan tidak memperhatikan faktor lain. Atau orang belajar dengan konsep ini akan menjadikan dirinya ibarat botol kosong yang perlu dituangi air sebanyak-banyaknya.
Perbedaan pendapat tentang arti belajar itu disebabkan oleh kenyataan bahwa perbuatan belajar itu sendiri bermacam-macam. Banyak jenis kegiatan yang oleh kebanyakan orang disepakati sebagai perbuatan belajar. Misalnya, menirukan ucapan kalimat, mengumpulkan perbendahaan kata, mengumpulkan fakta-fakta, menghafal lagu, menghitung, dan sebagainya. Tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua kegiatan dapat dikategorikan sebagai kegiatan belajar. Misalnya, minum, marah, menjiplak, dan menikmati hiburan.    
Para Ahli psikologi dan pendidikan mempunyai rumusan sendiri-sendiri tentang apa yang diamksud dengan belajar. Tentu saja rumusan yang dikemukakan saling berlainan sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing, berdasarkan tekanan atau sudut pandang maupun pendekatan (approach) yang mereka berikan terhadap kegiatan belajar, sehingga esensi yang dikemukakan mungkin juga sama, tetapi batasan atau rumusannya berebada. Tentu saja mereka mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
T. Raka Joni mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman kecuali perubahan tingkah laku yg. disebabkan oleh proses menjadi matangnya seseorang atau perubahan instinktif.  H.Carl Witherington dalam bukunya ”Educational Psychology” menyatakan belajar adalah perubahan tingkah laku di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.1   Guthrie merumuskan belajar sebagai perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman yang lampau. Sedangkan  Gronbach, berpendapat belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman. Hilgard - belajar, suatu proses yang menghasilkan sesuatu aktivitas baru atau yang mengubah suatu aktivitas dengan perantara latihan (baik di laboratorium maupun dilingkungan alam), yang berbeda dengan perubahan-perubahan yang tidak disebabkan oleh latihan.2
Howord L. Kingsley - belajar, proses di mana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.  W.S. Winkel dalam bukunya ”Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar” merumuskan belajar sebagai proses pembentukan tingkah laku secara terorganisir.3 Lester D Crow and Alice Crow dalam bukunya ”Educational Psychology”, merumuskan belajar adalah perubahan untuk memperoleh kebiasaan, ilmu pengetahuan, dan berbagai sikap. James O.Whittaker merumuskan belajar sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
Gagne (1984) merumuskan belajar sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman. Galloway dalam Toeti Soekamto (1992:27) mengatakan belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan faktor-faktor lain berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Morgan dan kawan-kawan (1986) menyebutkan bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman. Dari definisi ini dapat dikatakan bahwa suatu kegiatan dikatakan belajar apabila memiliki tiga ciri-ciri, yaitu: (a) belajar adalah perubahan tingkah laku, (b) perubahan terjadi karena latihan atau pengalaman. Maka pertumbuhan yang terjadi pada tingkah laku karena unsur kedewasaan bukan belajar, dan  (c) sebelum dikatakan belajar, perubahan tersebut harus bersifat relatif permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama.4
Dari rumusan atau definisi yang dikemukakan di atas, terdapat kesepakatan atau persamaan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku atau kecakapan. Perbedaan mereka terletak pada apa yang menyebabkan perubahan tingkah laku itu. Ada yang menyebut dengan pengalaman yang lampau dan ada yang menyebut dengan ulangan atau latihan.  Sumadi Suryabrata (1984), mengatakan apabila diteliti definisi-definisi belajar tersebut, terdapat hal-hal pokok sebagai berikut:
1)    bahwa belajar itu membawa perubahan dalam diri si pelajar (dalam arti perubahan tingkah laku (behavioral changes), aktual maupun potensial,
2)    bahwa prubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya pengetahuan dan atau kecakapan baru,
3)    bahwa perubahan itu terjadi karena adanya usaha [disengaja], bukan karena pematangan, dan
4)    bahwa perubahan itu mempunyai sifat sedikit banyak konstan.5 
Sedangkan Sukirin dalam bukunya ”Poko-Pokok Psikologi Pendidikan” (1981), menyimpulkan bahwa unsur  pokok dalam definisi belajar tersebut, adalah:
1)     kegiatan yang disengaja (usaha)
2)     adanya perubahan (baik aktual maupun potensial)
3)     timbulnya kecakapan baru.
Kemudian Sukirin, merumuskan belajar dapat didefinisikan sebagai: Suatu kegiatan yang disengaja untuk mengubah tingkah laku, sehingga diperoleh kecakapan baru.6
Dari semua pengertian belajar yang dikemukakan di atas,  dapat disimpulkan bahwa beberapa elemen dasar yang sekaligus menggambarkan pengertian prihal belajar, yakni:
(a) Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku. Perubahan tersebut dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang kurang menyenangkan atau tidak baik.
(b)    Belajar suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.  Tetapi perubahan yang terjadi karena pertumbuhan atau kematangan tidak dikatakan sebagai basil belajar.
(c)    Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan tersebut harus relatif mantap dan harus merupakan akhir dari suatu periode waktu yang cukup panjang. Berapa lama periode waktu itu berlangsung, sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlasung berhari-hari, berbulan-bulan, atapun bertahun-tahun. Berarti kita harus mengesampingkan perubahan-perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman perhatian atau kepekaan seseorang, yang biasanya hanya berlangsung sementara (temporer).
(d)    Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun fisikis, seperti; perubahan dalam pengertian, pemecahan masalah atau berpikir, keterampilan, kecaakapan, kebiasaan ataupun sikap.7
Jadi belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui pembelajaran atau latihan.  Perubahan itu sendiri berangsur-angsur dimulai dari sesuatu yang belum dikenal, untuk kemudian dikenal, dikuasai atau dimilikinya dan dipergunakan sampai pada suatu saat untuk dievaluasi.
Sebagaimana telah diutarakan di atas, bahwa para ahli psikologi mempunyai tafsiran sendiri-senddiri dan berbeda-beda tentang apa yang dimaksud dengan ”belajar”. Dengan adanya perbedaan-perbedaan itu, akhirnya pandapat-pendapat tentang pengertian belajar tersebut dikembalikan ke dua jenis  pandangan, yaitu : pandapa tadisional  dan  pandangan modern.
a)   Pandangan Tradisional
Penganut pandangan ini, memandang belajar adalah usaha untuk  memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan.  Menurut pandangan ini pengetahuan mendapat tekanan penting, karena pengetahuan memegang peranan utama dalam kehidupan manusia. Pengetahuan adalah kekuasaan dan siapa yang memiliki banyak pengetahuan, maka ia akan mendapatkan kekuasaan dan sebaliknya siapa yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan (bodoh) akan dikuasai oleh orang lain. Maka banayak memiliki pengetahuan adalah penting.8
Dalam Hadis Nabi saw, bahwa;

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ

“Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu.Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu” (HR. Bukhari dan Muslim). Dari hadis ini juga menunjukan bahwa ilmu pengetahuan adalah kekuasaan.  
Dengan demikian untuk memperoleh pengetahuan, harus mempelajari berbagai materi pelajaran di sekolah. Buku pelajaran atau bahan bacaan menjadi sumber pengetahuan yang utama. Maka sering ditafsirkan belajar berarti ”mempelajari buku bacaan”. Pandangan ini lebih bersifat intelektualistis  

b)   Pandangan Modern
Menurut pandanagan ini, belajar ada proses perubahan tingkah laku berkat interaksi dengan lingkungan. Maka individu dikatakan melakukan kegiatan belajar, jika ia memperoleh hasil, yaitu ”terjadi perubahan tingkah laku”. Misalnya; dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak pandai menjadi pandai, dari belum dapat mengendarai motor menjadi pandai mengendarai motor, dan sebagainya.
Perubahan tingkah laku, pada hakekatnya mengandung pengertian yang luas dan tidak hanya terbatas pada pengetahuan saja, tetapi meliputi unsur jasmani (struktural) dan unsur rohaniah (fungsional) yang kedua-duanya saling berkaitan dan berinteraksi satu sama lain. Pola tingkah laku itu sendiri juga terdiri dari berbagai aspek yang meliputi; pengetahuan, pengertian, sikap, ketrampilan, kebiasaan, emosi, appresiasi, jasmani, hubungan sosial, budi pekerti, dan lain sebagainya.
Jadi pengertian tingkah laku menurut pandangan modern, sangat luas dalam arti tidak hanya terbatas pada pengetahuan saja. Tetapi pengertian belajar menurut pandangan ini, siswa yang belajar dipandang sebagai organisme yang hidup sebagai satu keseluruhan yang bulat.  Siswa bersifat aktif dan senantiasa mengadakan interaksi dengan lingkungannya; menerima, menolak, mencari sendiri, dan dapat pula mengubah lingkungannya.  Sedangkan lingkungan itu sendiri juga bersifat luas, artinya tidak hanya terdiri dari buku-buku bacaan saja, melainkan lebih dari itu, yaitu guru, sekolah, masyarakat, masa lampau, dan lain sebagainya.   Interaksi antara individu dengan lingkungannya merupakan hal yang penting, karena pelajar akan memperoleh pengalaman, pengetahuan, dan lain-lain yang bermakna baginya.10

2.   Arti Penting Belajar
Dari sejumlah pengertian belajar yang telah dikemukakan di atas, ada kata yang penting untuk dibahas adalah kata perubahan atau change. Jadi inti dari belajar adalah perubahan yang terjadi dalam diri individu yang belajar, dengan memperoleh kecakapan baru dan bersifat permanen.
Seseorang yang melakukan aktivitas belajar dan diakhir dari aktivitasnya itu telah memperoleh perubahan dalam dirinya dengan pemilikan pengalaman baru. Maka individu itu dikatakan telah belajar. Perubahan yang terjadi akibat belajar adalah perubahan yang bersentuhan dengan aspek kejiwaan dan mempengaruhi tingkah laku.
Kemampuan untuk berubah melalui belajar, mengharuskan individu yang belajar secara bebas dapat  mengeksplorasi,  memilih, dan menetapkan keputusan-keputusan. Maka dapat disimpulkan bahwa arti penting belajar adalah ”perubahan”. Tetapi tidak setiap perubahan dikatakan sebagai hasil dari belajar.

B. Macam-macam aktivitas yang disebut belajar
Seseorang yang dikatakan telah belajar sesuatu apabila telah terjadi perubahan. Tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua perbuatan akibat dari belajar. Maisalnya, yang terjadi pada bayi, yaitu dapat memegang benda, dapat tengkurep, dapat duduk, dan sebagainya. Perbuatan semacam itu bukan karena akibat dari belajar, tetapi akibat dari faktor kematangan fungsi fisik.
Ada juga perubahan yang terjadi sangat singkat kemudian hilang. Misalnya; seseorang secara kebetulan dapat memperbaiki pesawat radio atau dapat memecahkan suatu soal ujian. Perubahan semacam itu, bukan akibat dari belajar, tetapi faktor kebetulan, sehingga ketika harus mengerjakan hal yang sama tidak dapat dilakukan lagi. Ketidak mampuan melakukan hal tersebut karena sebenarnya belum belajar hal yang bersangkutan atau kecakapan tersebut. Pada kenyataan bahwa apa yang disebut perbuatan belajar itu adalah bermacam-macam. Banyak aktivitas yang oleh hampir setiap orang dapat disepakati sebagai perbuatan belajar. Misalnya; mendapatkan perbendaharaan kata-kata baru, menghafal syair, menghafal lagu atau nyanyian, dan sebagainya. Ada beberapa aktivitas yang tidak begitu jelas, apakah itu tergolong sebagai perbuatan belajar atau tidak. Misalnya; mendapatkan bermacam-macam sikap sosial (misalnya prasangka), kegemaran, pilihan dan lain-lainnya.
Selanjutnya ada beberapa hal yang kurang berguna yang juga terbentuk pada individu. Misalnya; tics, gejala-gejala autistis, dan sebagainya, apakah hal-hal yang dikemukakan paling akhir ini tergolong pada kegiatan atau hal belajar, sukar dikatakan.11  Pertanyaannya, aktivitas seperti apa yang dapat dikategori sebagai aktivitas yang disebut belajar?
Apa yang disebut dengan perbuatan belajar itu bermacam-macam. Maka perlu diketahui bahwa belajar bukanlah proses dalam kehampaan. Tidak pula sepi dari berbagai aktivitas. Tidak tidak pula orang belajar tanpa melibatkan aktivitas raganya. Apalagi bila aktivitas belajar berhubungan dengan masalah belajar menulis, mencatat, memandang, membaca, mengingat, berpikir, latihan atau praktek, dan sebagainya.12   Begitu juga fungsi audio, visual, audio-visual, dan gerakan, dapat dioptimalkan dalam proses aktivitas belajar.
Oleh karena itu, berikut ini akan dibahas beberapa aktivitas yang dikategori sebagai aktivitas belajar, sebagai berikut:

1)    Mendengarkan
Mendengarkan adalah salah satu aktivitas belajar, karena setiap orang yang belajar di sekolah mesti akan mendengarkan materi pelajaran yang disampaikan guru atau dosen.  Katakan saja, setiap seorang guru atau dosen menggunakan metode ceramah, maka setiap siswa atau mahasiswa diharuskan mendengarkan apa yang disampaikan guru atau dosen. Akan menjadi pendengar yang baik dituntut dari siswa atau mahasiswa. Tetapi di sela-sela mendengarkan ceramah, ada aktivitas mencatat yang juga dianggap penting.
Dalam kegiatan mendengarkan ceramah, tentu saja ada hal-hal yang dapat mengganggu jalannya ceramah dan akan mengganggu konsentrasi belajar.  Gangguan dalam belajar mesti selalu ada dan tidak mungkin untuk dikikis habis. Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan?  Yang dapat dilakukan adalah memperkecil kemungkinan munculnya gangguan dalam belajar tersebut. Maka kita harus sadari hal tersebut agar tidak menimbulkan frustrasi daalam belajar.
Perlu diketahui juga, bahka aktivitas mendengarkan bukan satu-satunya aktivitas belajar. Sebab ada orang atau murid  tuna rungu   yang tidak menggunakan aktivitas mendengarkan, tetapi hanya melalui aktivitas visual [penglihatan]. Tentu sajaa mereka belajar hanya melalui gerakan-gerakan tangan dengan menggunakan simbol-simbol tertentu yang telah dibakukan.
Walaupun begitu, tidak dapat disangkal bahwa aktivitas mendengarkan adalah aktivitas belajar yang diakui kebenarannya dalam dunia pendidikan dan pengajaran dalam pendidikan formal persekolahan, ataupun non-formal.13 Sebab dalam kehidupan sehari-hari komunikasi bersifat   auditif [mendengar]   mendominasi   manusia dalam berinteraksi.  Tetapi jangan diabaikan, untuk pemerataan pendidikan, anak-anak tuna rungu perlu diperhatikan secara intensif juga, sehingga tidak ketinggalan. 

2)  Memandang
Memandang berarti mengarahkan penglihatan ke suatu objek tertentu. Tentu saja aktivitas memandang berhubungan erat dengan mata atau visual.  Dalam pendidikan dan pengajaran, aktivitas memandang termasuk dalam kategori belajar.  Katakan saja seorang siswa memandang papan tulis yang berisikan tulisan materi pelajaran yang baru saja ditulis oleh guru.  Tulisan yang dipandang menimbulkan kesan dan selanjutnya tersimpan dalam otak. 14Maka suatu metode untuk menyampaikan informasi untuk  seseorang pembelajar memperoleh “pengertian  yang lebih baik adalah dari  sesuatu yang  dapat “dilihat” dari  pada  didengar.
Tapi perlu diingat bahwa tidak semua aktivitas memandang berarti belajar. Maka aktivitas memandang dalam arti belajar adalah aktivitas memandang yang bertujuan dan sesuai dengan kebutuhan untuk mengadakan perubahan tingkah laku dalam kegiatan belajar. Oleh sebab itu, aktivitas memandang tanpa tujuan, bukanlah termasuk perbuatan belajar.  Walaupun pandangan tertuju pada suatu objek, tetapi tidak adanya tujuan yang ingin dicapai dalam belajar, maka pandangan tersebut tidak termasuk atau tidak dapat dikategorikan sebagai aktivitas belajar.

3)  Meraba, Membau, dan Mencicipi atau Mengecap
Aktivitas meraba, membau, dan mengecap adalah indra manusia yang dapat dijadikan sebagai alat untuk kepentingan belajar.  Artinya aktivitas ini, dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk belajar dan tentu saja aktivitasnya harus disadari oleh suatu tujuan tertentu. Dengan demikian aktivitas meraba, membau, dan mengecap dapat dikatakan atau dikategorikan sebagai aktivitas belajar, asal saja semua aktivitas tersebut didorong oleh kebutuhan, motivasi untuk mencapai tujuan dengan menggunakan situasi tertentu untuk memperoleh perubahan tingkah laku.15
Dalam kenyataan, mungkin saja aktivitas meraba jarang digunakan secara optimal oleh pembelajar yang memiliki penglihatan yang normal. Tetapi bagi pembelajar yang buta mata, maka aktivitas meraba adalah sangat efektif bagi mereka dalam belajar.

4)   Mencatat
Mencatat merupakan aktivitas yang tidak terpisahkan dari aktivitas belajar. Dalam pendidikan tradisional kegiatan mencatat merupakan aktivitas yang sering dilakukan. Dalam kegiatan mencatat, seorang siswa juga harus mendengarkan isi ceramah yang disampaikan, tetapi juga tidak dapat mengabaikan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting. Tentu saja dalam kegiatan mencatat materi pelajaran, setiap pembelajar mempunyai ”cara tertentu” dalam mencatat, dan kadang menggunakan singkat yang hanya diketahui pembelajar tersebut, kadang juga dalam memilih pokok-pokok pikiran tertentu yaang dianggap penting untuk dicatat.16  Tetapi, dalam perkembangan sekarang, mungkin saja kegiatan mencatat dapat digantikan dengan alat bantu eloktronik, baik berupa rekaman, atau menggunakan internet.
Perlu diketahui pula, bahwa tidak setiap mencatat dapat dikategorikan sebagai aktivitas belajar. Katakan saja, aktivitas mencatat yang bersifat menurut, menciplak, mengcopy, atau meniru tidak dapat dikatagorikan sebagai aktivitas belajar. Maka kegiatan mencatat yang dapat dikategorikan sebagai aktivitas belajar yaitu apabila dalam mencatat itu pembelajar menyadari kebutuhan dan tujuannya, serta menggunakaan seperangkat tertentu, agar catatan itu nantinya berguna bagi pencapaian tujuan belajar.
Selain itu, dalam kegiatan mencatat bukan haanya sekedar mencatat saja, tetapi mencatat yang dapat menunjang tujuan belajar. Dari itu semua, jangan membuat catatan sembarangan, sebab hal itu dapat mendatangkan kerugian material dan pemikiran, serta akibat yang lain adalah akan sis-sia catatan tersebut, sebab tidak dapat digunakan untuk kepentingan belajar.17
Bagi mahasiswa, suatu catatan yang baik dan berguna adalah catatan yang dapat menampung sejumlah informasi, yang tidak hanya bersifat fakta-fakta, melainkan juga terdiri atas materi hasil analisis dari bahan kuliah dari dosen dan dari bahan bacaan mahasiswa.

5)   Membaca
Aktivitas membaca merupakan aktivitas yang paling banyak dilakukan selama belajar di sekolah atau di perguruan tinggi.  Membaca di sini bukan hanya membaca buku, majalah, koran, tabloid, jurnal hasil penelitian, catatan kuliah semata, tetapi juga dapat membaca fenome yang terkait dengan tujuan belajar.
Cara dan teknik seseorang dalam membaca selalu menunjukkan perbedaan pada hal-hal tertentu. Maka tidak heranlah, jika dikatakan bahwa belajar itu suatu seni, sama halnya mengajar adalah seni [teaching as an art]. Ada juga orang membaca buku sambil tidur-tiduran dapat belajar dengan baik, ada yang membaca buku sambil mendengarkan radio dapat belajar dengan baik, ada orang yang membaca buku tanpa suara dapat belajar dengan baik,18 ada yang membaca buku dengan suara atau membunyikan dapat belajar dengan baik, ada yang membaca buku sambil berjalan-jalan dapat belajar dengan baik, ada pula yang membaca buku di antara keributan atau keramaian dapat belajar dengan baik, ada pula yang  membaca buku cepat,  membaca lamban, membaca untuk memahami, dan sebagainya. Artinya, orang membaca buku dengan berbagai cara agar dapat belajar.
Dengan demikian, teknik membaca buku sangat tergantung pada kebiasaan dan kemampuan seseorang. Artinya, seseorang dapat memilih teknik yang mana yang lebih sesuai dengan karakteristik pribadinya dan tentu saja tidak mengabaikan pola-pola umum dalam belajar.

6)   Membuat Ikhtisar catatan
Biasanya orang merasa terbantu dalam belajar, jika menggunakan ikhtisar-ikhtisaar materi yang dibuatnya.  Memang dalam pengalaman, ikhtisar atau ringkasan dapat membantu seseorang dalam hal mengingat atau mencari kembali materi dalam buku apabila dibutuhkan.
Tetapi, untuk keperluar belajar yang intensif, bagaimanapun hanya membuat dan mengandal ikhtisar belum cukup untuk kegiatan belajar. Selain itu, dalam membaca buku biasanya pada hal-hal yang penting perlu diberi garis bawah [underlining]. Memang hal ini sangat membantu dalam usaha menemukan kembali materi, bila diperlukan.19 Tetapi pada orang tertentu merasa memberi garis bawah akan mengotori bukunya, maka tekniknya disesuaikan dengan keinginannya.

7)  Mengamati Tabel-Tabel, Diagram-Diagram dan Bagan
Dalam buku ataupun dilingkungan lain sering dijumpai tebal-tabel, diagram, ataupun bagan-bagan.  Materi non-verbal semacam ini sangat nberguna bagi seseorang dalam mempelajari materi yang relevan. Selain itu, gambar-gambar, peta, dan lain-lain dapat menjadi bahan ilustratif yang membantu pemahaman seseorang tentang suatu hal.20 Maka penggunaan diagram, peta, bagan sangat membantu dalam proses berpikir. Dalam kenyataan gambar atau peta akan lebih banyak memberikan informasi yang detail dan faktual, bila dibandingkan dengan verbalisme semata.
Dengan demikian, masalah tabel, diagram, dan bagan jangan diabaikan untuk diamati, karena ada hal-hal tertentu yang tidak termasuk dalam penjelasan melalui tulisan.

8)  Menyusun Paper
Menyusun paper merupakan masalah yang berhubungan erat dengan masalah tulis menulis. Hal ini tentu saja butuk kemampuan dan kebiasaan menulis, karena penulisan paper yang baik sesuai dengan prosedur ilmiah yang dituntut dalam penulisan paper. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar juga dituntut, sehingga dapat menghasilkan karya tulis yang bermutu tinggi.
Dalam menyusun paper harus metodologis dan sistematis. Artinya metodologis yaitu menggunakan metode-metode tertentu dalam penulisan. Sedangkan sistematis yaitu menggunakan kerangka pikir yang logis dan kronologis. 
Seseorang yang akan menyusun paper, bukan harus mempersoalkan judulnya, tetaapi yang harus dipermasalahkan adalah masalahnya apa dan aktual atau tidak. Masalah yang ditemukan, harus dikuasai sehingga mudah menegerjakan dan menyelesaikannya. Penguasaan masalah sangat berguna untuk membuat kerangka paper. Untuk dapat mengusai masalah tersebut, tentu saja harus digali atau dieksplorasi dari sumbernya dan salah satu sumber masalah adalaah buku. Maka berusahlah mencari buku yang berhubungan dengan masalah tersebut.  Sumber teori yang diambil dari buku tentu saja menurut aturan atau kaidah-kaidah metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Dengan demikian, kegiatan menyusun paper atau kertas kerja dapat dikategorikan sebagai aktivitas belajar.  Tetapi, sebaliknya yang tidak termasuk ke dalam aktivitas belajar adalah mengopi hasil karya orang lain, menciplak karya orang lain atau mengutip tanpa menulis sumbernya.21

9)  Mengingat
Mengingat merupakan gejala psikologis. Untuk mengetahui bahwa seseorang sedang mengingat sesuatu, dapat dilihat dari sikap dan perilakunya. Perilaku mengingat  dilakukan bila seseorang sedang berusaha untuk mengingat-ingat kesan yang telah dipunyai.22
Ingatan itu sendiri adalah kemampuan jiwa yang prosesnya meliputi tiga unsur yaitu mencamkan, menyimpan dan reproduksi. Mencamkan atau learning yaitu melekatkan tanggapan, kesan ataupun pengertian kedalam diri kita. Menyimpan [retention] yaitu menata dan memelihara kesan ataupun pengertian yang dilekatkan, agar pada kesempatan lain dapat kita manfaatkan. Reproduksi atau remembering yaitu menaikkan ke kesadaran apa-apa yang telah tersimpan di bagian bawah sadar atau bagian tak-sadar dari alam kejiwaan kita.
Proses aktivitas ingatan (memory) seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sifat seseorang, lingkungan sekitar, keadaan jasmani, keadaan rohani [jiwa], dan juga umur seseorang. Mungkin saja seseorang mengalami kesulitan untuk mereproduksi kesan atau informasi yang telah ada. Maka ketidakmampuan memproduksi kesan yang sudah ada sering disebut dengan terjadinya lupa.
Mengingat adalah salah satu aktivitas belajar. Tidak ada seorangpun yang tidak pernah mengingat dalam kegiatan belajar. Maka perbuatan mengingat jelas sekali terlihat ketika seseorang sedang menghafal bahan pelajaran, berupa dalil,kaidah, pengertian, rumus, dan sebagainya.22

10)   Berpikir
Berpikir termasuk aktivitas belajar, karena dengan berpikir orang akan memperoleh penemuan baru, setidak-tidaknya orang akan menjadi tahu tentang hubungan antara sesuatu.  Berpikir dari taraf rendah sampai taraf berfikir yang tinggi.23 Selain itu, ada juga yang disebut dengan berpikir dalam arti luas yaitu pergaulan dengan duania abstrak, dan berpikir dalam arti sempit yaitu kesanggupan jiwa untuk menghubungkan bagian yang sudah diketahui.24

11)  Latihan dan Praktek
Learning by doing adalah konsep belajar yang menghendaki adanya penyatuan usaha mendapatkan kesan-kesan dengan cara berbuat atau melakukan sesuatu. Belajar sanbil berbuat atau melakukan dalam hal ini termasuk latihan yang merupakan cara yang baik untuk memperkuat ingatan. Dengan banyak latihan kesan-kesan yang diterima akan lebih fungsional, sehingga aktivitas latihan dapat mendukung belajar yang optimal.25

C. Fokus Perhatian Psikologi Belajar
Ada tiga fokus perhatian dalam pendidikan, yang sekaligus juga menjadi pusat perhatian para ahli psikologi pendidikan dan belajar, yaitu anak didik, proses belajar, dan situasi belajar.26
1.     Anak Didik
Anak didik merupakan elemen terpenting di antara elemen-elemen yang lain. Ini bukan berarti unsur manusia lebih penting dari sekedar proses belajar dan situasi belajar, sebab tanpa hadirnya elemen siswa, tidak akan terjadi peristiwa belajar.27 Seorang anak yang hadir dalam proses belajar mengajar di kelas dengan :
1)     segala potensi dan kemampuan yang dimilikinya
2)     lingkungan sekitar yang mempengaruhi
3)     tanpa peserta didik tidak terjadi peristiwa belajar.  John Dewey mengatakan bahwa tanpa peserta didik tidak ada perubahan mengajar, sebagaimana halnya tidak ada peristiwa penjual tanpa pembeli.28

2.     Proses Belajar
Dalam proses belajar, adalah proses di mana seseorang akan mengalami :
1)  perubahan tingkah laku,
2)  meningkatkan penampilan,
3)  mengorganisasi pikiran atau menemukan suatu cara baru dalam bertingkah laku.
4)  Maka proses belajar diartikan sebagai, “apa yang mereka lakukan, apabila mereka belajar”. Maksudnya, apa yang mereka lakukan, termasuk ke dalam tingkah laku yang secara langsung diamati, seperti : menulis, berhitung, memperhatikan, berdiskusi, dan sebagainya. Tetapi ada tingkah laku tidak secara langsung dapat diamanti, sepert; berpikir, mengamati, mengingat-ingat, dan sebabaginya. 29

Dalam situasi proses belajar ini, anak dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu :
1)     ada anak yang tidak senang dengan strategi verbal, maka proses belajar di lakukan dengan pendekatan non-verbal, begitu pula sebaliknya,
2)     ada anak yang tidak aktif, karena yang dilakukan itu bukan kebutuhan mereka, maka guru bagaimana mengetahui kebu tuhan anak.

3.                                                  Situasi Belajar
Situasi belajar adalah menunjuk kepada suatu faktor atau kondisi yang mempengaruhi peserta didik, di mana proses belajar itu terjadi. Dalam hubungan ini:
1)     guru sebagai elemen terpenting dalam situasi belajar,
2)     situasi udara, penerangan, komposisi tempat duduk.,
3)     sikap guru dalam pembelajaran,
4)     semangat kelas dan suasana perasaan di sekolah,
5)     sikap masyarakat terhadap pendidikan, pemilihan jurusan, dan sebagainya.30            

Beberapa saran untuk  membangun hubungan dengan peserta didik:
1)     perlakukan siswa sebagai manusia yang sederajat,
2)     ketahui apa yang disukai siswa, cara berpikir, perasaan, hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka,
3)     bayangkan apa yang mereka katakan kepada diri sendiri, mengenai diri sendiri,
4)     ketahui apa yang menghambat mereka untuk memperoleh hal yang benar-benar mereka inginkan dan jika tidak tahun tanyakanlah kepada mereka,
5)     berbicara dengan jujur kepada mereka dengan cara yang membuat mereka mendengarnya dengan jelas dan halus,
6)     bersenang-senaglah atau rayakan keberhasil bersama-sama mereka.

III.  Lembar Kerja
Pada lembar latihan ini, mahasiswa diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pada akhir kuliah, sebagai berikut :
1.     Rumuskan satu batasan atau pengertian belajar menurut saudara!
2.     Dari definisi yang saudara pelajari, rumuskan tiga ciri utama kegiatan belajar!
3.     Kemukakan komentar saudara terhadap pandangan tradisional dan modern tentang belajar!
4.     Bandingkan kedua pandangan (modern dan tradisional) tersebut!
5.     Apakah yang menjadi fokus perhatian psikologi belajar? Utarakan dan jelaskan menurut pandangan saudara!




SUMBER
Muhibbin Syah, 1997, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Remaja Rosdakarya, Bandung.
Sumadi Suryabrata, 1984, Psikologi Pendidikan, Rajawali,Jakarta.
Hujair AH. Sanaky, 1997,  Diktat Psikologi Pendidikan, Fak.Tarbiyah UII, Yogyakarta.
Mahfudh Shalahuddin, 1990, Psikologi Pendidikan, Bina Ilmu, Surabaya.
Sukirin,1981, Pokok-pokok Psikologi Pendidikan, FIP-IKIP, Yogyakarta.
M. Ngalim Purwanto,1992, Psikologi Pendidikan, Grasindi, Jakarta.
M. Dimyati Mahmud, 1990, Psikologi Pendidikan, Edisi I, DPFE, Yogyakarta.
Syaiful Bahri Djamarah, 2002, Psikologi Belajar, Rineka Cipta, Jakarta.
Toeti Soemanto, dk., 1994, Teori Belajar dan Model-model Pembelajaran, Pusat Antara Universitas, Jakarta.



1     Mahfudh Shalahuddin, Pengantar Psikologi Pendidikan,(Surabaya: Bina Ilmu,1990),hlm. 27.
2     Sukirin, 1981, Pokok-pokok Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta:  FIP-IKIP, 1981),  hlm. 48.
3     W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, Cet.II, (Jakarta: Gramedia, 1999),
4     Toeti Soekamto, 1994, Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran, Pusat Antara Universitas untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, hlm.8.
5     Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikanr, (Jakarta: Rajawali, 1984),  hlm. 253.
6     Sukirin, ”Poko-Pokok Psikologi Pendidikan”, (Yogyakarta: FIP-IKIP, 1981),  hlm.49.
7     Mahfudh Shalahuddin, Pengantar Psikologi Pendidikan ,hlm. 28.
8     Ibid, hlm. 29-30
10  Mahfudh Shalahuddin, Pengantar Psikologi Pendidikan, hlm. 29-31.
11  Sumadi Suryabrata, 1984, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali, 1984), hlm.250.
12  Syaiful Bahri Djamarah,   Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm.38.
13  Ibid, hlm. 38.
14  Ibid, hlm. 39
15  Ibid, hlm. 40
16   Baca: Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, hlm. 40
17  Ibid, hlm. 41.
18  Ibid, hlm. 41.
19  Baca: Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, hlm.42.
20  Baca: Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, hlm.42.
21  Baca: Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar,  hlm. 43-44.
22   Ibid, hlm. 44.
22  Ibid, hlm. 44.
23   Ibid, hlm.44
24  M.Dimyati Mahmud, Psikologi Pendidikan,, (Yogyakarta: BPFE, 1990),  hlm.5.
25  Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, hlm.45.
26  Mahfudh Shalahuddin, Pengantar Psikologi Pendidikan, (Surabaya: Bina Ilmu, 1990), hlm.16.
27  Ibid, hlm.16.
28  Ibid, hlm. 16.
29  Ibid, hlm. 16.
30  Ibid, hlm.16